Amal Tubuh Vs Amal Hati

  • Whatsapp

Al-anwariyah.or.id – Upaya untuk beragama dengan baik dipraktekkan dengan dua amal (tindakan), yakni: Amal tubuh seperti shalat, puasa, sedekah, membantu sesama dan semacamnya. Amal hati seperti iman*, ikhlas, niat dan semacamnya.

Keduanya penting, tapi amal hati lebih penting sebab amal tubuh yang dilakukan tanpa amal hati yang baik takkan ada nilainya; Shalat tanpa niat tak sah, ibadah tanpa ikhlas tak berpahala, kebaikan tanpa iman percuma. Sebaliknya, niatan untuk berbuat baik tetapi tak terlaksana karena udzur, ia tetap mendatangkan satu pahala.

Bahkan, maksiat hati lebih berbahaya daripada maksiat tubuh; Maksiat tubuh maksimal “hanya” menyebabkan kefasikan. Mabuk, zina, membunuh, tidak shalat** dan semua maksiat tubuh yang parah adalah dosa besar, tapi pelakunya tak sampai kafir sebab itu, selama hatinya sadar bahwa itu dilarang dan dia mengaku melakukan kesalahan.

Namun, maksiat hati yang parah bisa sampai menyebabkan orang murtad alias keluar dari Islam; Orang yang dalam hatinya membenci Allah atau Rasulullah adalah orang murtad (menjadi kafir) meskipun amal tubuhnya baik. Demikian juga orang yang dalam hatinya menganggap zina dan larangan lain yang semua orang sudah tahu, maka dia juga murtad meskipun dia tak pernah berzina. (Jadi ingat pendemo yang secara lahiriah seolah menghalalkan zina? Ya, kalau mereka memang menghalalkan zina, maka murtad. Bila tidak sampai menghalalkan, maka tidak). Sama juga orang yang menganggap shalat, zakat, puasa ramadhan dan kewajiban lain yang diketahui semua orang sebagai sesuatu yang tidak wajib dilakukan, maka dia juga murtad.

Kenapa sampai murtad? karena amal hati yang demikian sama saja dengan menentang syariat terang-terangan. Dengan demikian keimanannya menjadi batal.

Ada dua redaksi hadis terkait bahasan ini, yakni:

نية المؤمن خير من عمله
“Niat seorang mukmin lebih baik dari tindakannya”. (HR. Thabrani)

نية المؤمن أبلغ من عمله
“Niat seorang mukmin lebih mengena daripada tindakannya” (HR. Baihaqi)

Kedua redaksi hadis tersebut secara sanad adalah lemah tetapi kandungan/matannya benar.


*iman di sini dalam arti sebagai keyakinan hati saja (sebagaimana dinyatakan sebagian ulama Ahlussunnah), bukan dalam arti satu paket antara keyakinan hati, ucapan dan tindakan (sebagaimana dinyatakan mayoritas ulama).

**Sebagian ulama menganggap tidak shalat sebagai tindakan yang menyebabkan murtad, namun para ahli tahqiq memperinci niatnya sebelum memutuskan murtad tidaknya: Kalau motifnya karena malas, maka tidak murtad tetapi fasiq. Kalau motifnya karena ingkar kewajiban shalat, barulah murtad. Ini pendapat yang lebih kuat.

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Pos terkait