Kisah Sang Guru, Mbah Dullah Salam Kajen

  • Whatsapp
Teladan Mbah Dullah Salam: Dari Hubbul Ilmi hingga Keistiqamahan
KH Abdullah Zain Salam (santrimabny.blogspot.com)

Kisah Sang Guru, Mbah Dullah Salam Kajen

Al-anwariyah.or.id – KH Abdullah Zain Salam dikenal memiliki teladan-teladan yang sangat mulia, mulai dari kecintaan mendalam terhadap ilmu pengetahuan, memiliki kebiasaan mengembara demi mencari ilmu pengetahuan, dan keteladanan lain. 

Biografi mbah dullah salam

Desa Kajen Kecamatan Margoyoso, berjarak sekitar 18 kilo meter ke arah utara dari Kota Pati, Jawa tengah.
Desa yang biasa disebut “Desa Pesantren” Ini merupakan Desa yang telah banyak berjasa menyumbangkan putra-putri terbaiknya terhadap Bangsa, Negara dan Agama

Hal itu dirasa tidak berlebihan, dimana desa tersebut mengajarkan berbagai literatur Ilmu-Ilmu Agama Islam serta umum hasil karya ulama-ulama, lembaga Pendidikan formal (madrasah ) maupun lembaga pendidikan Non Formal (Pesantren) yang kelahirannya telah dibidani oleh ulama-ulama kharismatik yang berhaibah tinggi dihadapan para umatnya, telah mampu menjadikan tampilan wujud Desa ini menjadi sangat kontras bila dibandingkan dengan desa-desa lain di Kabupaten Pati1. Bahkan tak ayal desa kajen praktis menjadi kiblat refrensi dan rujukan dari berbagai penyelesaian Keagamaan.

Potret KH.Abdullah Zen Salam

Kebesaran kajen ini tak lepas dari sosok Waliyullah Syaikh Ahmad Mutamakkin, sosok ulama sufi yang hidup pada Abad 16-17 M (1695-1740).3 yang konon adalah salah satu penyebar pertama agama Islam di tanah Kajen dan sekitarnya
KH Abdullah Zen Salam adalah keturunan ke tujuh dari pihak ayah sampai kepada Syaikh Mutamakkin. Silsilahnya adalah KH.Abdullah Zen Salam bin KH Abdussalam bin KH Abdullah bin Nyai Muntirah binti KH Bunyamin bin Nyai Toyyibah binti KH.Muhammad Hendro bin kH Ahmad Mutammakin. Yang jika ditarik garis keturunan menunjukkan beliau, Syaikh Abdullah Zen Salam masih mempunyai garis darah sampai pada Nabiyullah Muhammad SAW yang tepatnya ketururan ke 35.

Perjalanan Pendidikan KH Abdullah Zen Salam

Ada beberapa versi yang menjelaskan perjalanan pendidikan KH.Abdullah Zen Salam, salah satunya bahwa sejak kecil Mbah Dullah telah terbiasa hidup mandiri dan terpisah dari keluarganya, belum genap tujuh tahun beliau ikut pamannya dari pihak Ibu di Jepara yaitu kiyai Sholihin untuk belajar mengaji Al-qur’an Binnadhor.

Saat usianya mencapai tujuh tahun, beliau melanjutkan pendidikan di Kajen, tepatnya di Perguruan Islam mathali’ul falah dimana Abahnya sendiri KH.Abdussalam sebagai mudir (kepala sekolah) waktu itu.
Setelah lulus dari Mathole’ beliau diantar kakaknya KH.Mahfudz ke Madura untuk menghafal Al qur’an di bawah asuhan Kiyai Mohammad Sa’id dan kemudian melanjutkan ke pesantren Tebu Ireng – Jombang dibawah asuhan KH.Hasyim Asy’ari.

Versi lain mengatakan bahwa setelah beliau mengaji Al qur’an binnadhor di Jepara beliau melanjutkan ke Sampang Madura baru kemudian kembali ke Kajen untuk Tholabul Ilmi di Perguruan Islam Matholi’ul Falah,. Setelah itu baru diantar kakaknya ke Tebu_Ireng.

Di Tebu Ireng beliau seangkatan dengan teman-teman sesama dari Kajen antara lain KH.Duri Nawawi, KH.Ni’am Tamyis dan KH.Abdul Hadi. Diantara dua yang terakhir usia beliau termasuk yang paling muda, namun demikian justru beliaulah yang sering membantu mencarikan tambahan bekal bila kedua teman tersebut kehabisan bekal. Sebenarnya pendidikan beliau di Tebu ireng belum rampung, namun ditarik pulang oleh abahnya , KH Abdussalam yang kemudian dinikahkan dengan Nyai Aisyah. Awal pernikahan beliau bertempat tinggal di Bugel – Jepara, tepatnya di kediaman Mertua beliau KH.Ismail. Selang beberapa waktu beliau ditimbali pulang oleh KH.Abdussalam ke Kajen.

Meskipun secara Formal pendidikan beliau sudah berakhir, namun secara Informal beliau masih aktif belajar pada beberapa pihak, termasuk pada KH.Muhammadun Kajen pada tahun 1956/1957. Sepulang dari Kudus, yaitu setelah mengaji Qiro’ah Sab’ah dengan KH.Arwani Kudus. Beliau mengajar di Perguruan Islam Matholi’ul Falah dan sebagai Pengasuh di Pesantren Matholi’ul Huda (PUSAT) 5)
KH.Abdullah Zen Salam yang akrab disapa dengan Mbah Dullah ini dilahirkan di Kajen Margoyoso Pati dengan nama Abdullah. Namun ketika kanak-kanak nama beliau ditambahi Zen, menjadi Abdullah Zen, untuk membedakan beliau dengan beberapa anak sebaya yang kebetulan bernama sama, yaitu Abdullah dan salam diambil dari nama Romo beliau menjadi Abdullah Zain Salam.
Belum jelas tentang tahun, tanggal dan bulan lahir beliau. Menurut KH.Ma’mun Muzayyin, menantu Mbah Dullah istri dari nyai Hanifah, berdasarkan informasi dari ayahnya KH Muzayyin, Mbah Dullah lahir pada 1917. Sementara masih menurut KH Muzayyin, Mbah Dullah sendiri secara langsung pernah mengatakan, bahwa beliau dilahirkan pada tahun 1920. Dipihak lain, ada sumber yang mengatakan, bahwa beliau dilahirkan berkisar antara tahun 1910-1915.

Silsilah KH Adbullah Zen Salam

KH.Abdullah Zen Salam adalah salah satu putra KH.Abdussalam. KH.Abdussalam ini beristri empat orang. Dari istri pertama dikaruniai dua orang anak yakni:
1.Nyai Aisyah
2.KH Mahfudh (yang wafat dan dimakamkan di ambarawa).
Sementara KH.Abdullah Zain Salam sendiri adalah putra pertama dari istri ke dua KH. Abdussalam yaitu nyai Sumrah, yang jumlah seluruhnya empat bersaudara.
1.KH Abdullah Zen Salam Kajen
2.KH Ali Mukhtar Kajen
3.seorang putri yang meninggal pada usia empat tahun.
4.Nyai Saudah Jepara.

Manajemen Pendidikan Ala KH Abdullah Zen Salam

KH Abdullah Zen Salam dikenal dengan prinsipnya yang tegas, baik posisinya sebagai Imam dikeluarganya maupun sebagai Sosok Figur di sekolah dan masyarakat. Ada sebuah kisah, konon pernah terjadi ketika tahun 1945 ibu Hj.Sholihah Mukhtar, salah satu lulusan pertama Banat PIM di panggil KH.Abdullah Zen Salam untuk mengajar di Mathole’, saat itu pemerintah menganjurkan untuk para pengajar agama formal di Indonesia melakukan ujian guru agama di Kabupaten lain. Mendengar hal itu ibu Hj. Sholichah Mukhtar dan para guru-guru Mathole’berinisiatif untuk mengikuti ujian guru tersebut, saat ibu Sholichah dan beberapa teman guru meminta izin kepada Mbah Dullah, dengan tegas beliau melarang, dan ngendikan bahwa “kalau mengajar harus dengan ikhlas, jangan mencari untung keduniaan dengan ilmu”.

Akhirnya ibu Hj.Sholihah dan beberapa teman yang ikut sowan pun menanggalkan niatan mereka untuk mengikuti ujian guru Agama. Namun, ternyata ada beberapa dari para guru yang tetep mengikuti ujian agama tanpa seizin KH.Abdullah Zen Salam yang sa’at itu memiliki posisi sebagai pimpinan di sekolah Matholi’ul Falah. Sekembalinya mereka dari ujian, Mbah Dullah ( begitu beliau biasa di panggil ) marah dan mencabut hak para guru yang ikut ujian tersebut sebagai pengajar di mathole’ walaupun ada beberapa dari guru tersebut yang tergolong masih kerabatnya sendiri.
Ada juga kisah tentang beliau ini, Matholi’ul Falah adalah sebuah Perguruan Islam yang mengajarkan 75% Ilmu Agama dan selebihnya Ilmu Umum. Mempunyai motto I’dadu Al-Insan Al-Sholih Wa Al–Akrom, untuk menjadi kholifah di muka bumi.

Figur KH Abdullah Zen Kajen

KH.Abdullah Zen Salam adalah figur muru’ah dan wira’i yang menjaga benar harga diri dan ngerekso dari perkara-perkara subhad. Konon cerita, suatu saat Mathole’ mendapat surat intruksi dari pemerintah agar para murid mengikuti ujian yang dikoordinir oleh negara, mendapati hal tersebut Mbah Dullah dengan tenang tidak memperdulikan intruksi tersebut dan berinisiatif lebih baik menutup sekolah dari pada Madrasah yang beliau pimpin di usik oleh pihak pemerintah. Hingga dulu, konon sempat Madrasah Mathole’ vakum beberapa sa’at karena mempertahankan perinsip. Namun, akhirnya Madrasah Mathali’ul Falah kembali bangkit dengan semangat baru yaitu Perguruan Islam Matholi’ul Falah (PIM) yang Menggunakan basis pesantren. Beliau, KH.Abdullah Zen Salam sangat menjaga dan berhati-hati dalam membangun kurikulum yang beliau terapkan.


Pos terkait